
Sulbar, Mediasuaranegeri.com – Nelayan Mandar telah lama dikenal sebagai pelaut ulung dengan keterampilan bahari yang diwariskan secara turun-temurun.
Keahlian para nelayan dalam menangkap ikan, khususnya tuna dengan metode pancing atau hand line, menjadikan Nelayan Mandar aset berharga dalam industri perikanan nasional. Namun, keterbatasan sarana dan prasarana pelabuhan di Sulawesi Barat membuat mereka harus bermigrasi ke berbagai kota perikanan di wilayah tengah dan timur Indonesia untuk mencari peruntungan yang lebih baik.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi barat, Dr. suyuti Marzuki, S.Pi., MT., M.Sc menyampaikan bahwa saat ini nelayan Mandar migrasi sedikitnya 10 kota perikanan utama di Indonesia seperti Larantuka, Lombok, Kendari, Bone, Makassar, Pare-pare Lero, Gorontalo, Donggala, Bontang, Balikpapan dan wilayah lainnya.
“Dalam setahun, paling sedikit 30 hingga 40 kapal nelayan bermigrasi ke masing-masing kota tersebut, sehingga secara total terdapat sekitar 400 kapal nelayan Mandar yang mencari nafkah di luar Sulbar,” kata Suyuti dari hasil kordinasi dengan para pelaku usaha yang ada di Polman dan Majene.
Lanjut Suyuti, di setiap daerah tujuan para nelayan itu bekerja di bawah naungan bos ikan, yang jumlahnya bisa mencapai 5 hingga 10 orang per daerah.
“Satu bos ikan biasanya mempekerjakan 3 hingga 5 kapal nelayan, dengan hasil tangkapan yang sebagian besar disuplai ke perusahaan perikanan yang mengekspor ikan tuna ke pasar internasional,” ucapnya.
Selain itu, Suyuti juga menyampaikan bahwa minimnya infrastruktur pelabuhan di Sulbar menjadi salah satu penyebab utama belum adanya perusahaan perikanan besar yang dapat membeli ikan dengan harga tinggi langsung dari nelayan lokal.
“Padahal, jika didukung dengan fasilitas yang memadai, Sulbar memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perikanan yang dapat memasok kebutuhan ikan, termasuk untuk mendukung suplai pangan ke Ibu Kota Nusantara (IKN),” tuturnya.
Oleh karena itu, menurut Suyuti, perhatian terhadap pengembangan infrastruktur perikanan di Sulbar sangat diperlukan, baik dalam bentuk pembangunan pelabuhan perikanan, peningkatan fasilitas rantai dingin, maupun dukungan kebijakan yang mendorong investasi sektor perikanan.
“Dengan begitu, nelayan Mandar tidak perlu lagi bermigrasi jauh untuk meningkatkan taraf hidupnya, melainkan dapat berkembang di daerahnya sendiri dan berkontribusi lebih besar bagi ekonomi lokal serta ketahanan pangan nasional,” tandasnya.(*)
***
